Tag Archives: DPD DKI

‘Tukang Sablon‘ Jadi Anggota DPD RI

Sejak perhitungan suara dimulai Pasca pemilu 9 April 2009 lalu, saya kerap mendapat bejibun pertanyaan dari teman-teman yang hobby memantau perolehan suara Caleg jagoan mereka.

Khusus untuk Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, yang menjadi objek utama pertanyaan untuk saya adalah 2 orang yang selalu masuk 4 besar perolehan suara  terbanyak di DKI Jakarta.   Pertanyaannya adalah : “Siapa sih Djan Faridz ?” …. saya pun kasih jawaban standart “ooh, itu konglomerat pribumi pemilik Pasar Blok A tanah abang, Bubble Tea Quickly dan menguasai banyak proyek kelistrikan di PLN”.

Tapi pertanyaan yang lain lumayan bikin saya agak sulit menjelaskan ketika ada rekan bertanya “siapa sih Supardi a.k.a  Pardi Bang Acil ?”    :)   Dengan perolehan suara sementara di peringkat  nomor 3 setelah Dani Anwar & AM Fatwa, dan memiliki selisih amat jauh dengan (siapapun) yang bakalan duduk di peringkat ke-4   (nyaris 20 ribuan suara penduduk Jakarta…).  Dan bisa dipastikan dia akan menduduki kursi di Senayan sebagai Anggota DPD RI yang baru.

Saya teringat Bang Pardi ini dulu pernah beberapa kali datang untuk bersua dengan Pak Sarwono Kusumaatmadja.  Dan menurut beberapa teman-teman yang menjadi Staff Pak eSKa, Pardi ini bisa dikategorikan “orang stress atau nggak tau diri..”    :)

Saya sempat tertawa mendengarnya dan menanyakan kenapa mereka bisa berpendapat seperti itu.  Sebab usut punya usut Pardi punya cita-cita mulia “5 tahun lagi, saya akan menggantikan Bapak Sarwono di kursi anggota DPD RI”.     So, akibatnya Pardi diam-diam dibilang orang stress dan menjadi bahan tertawaan beberapa rekan tersebut.   :)

Karena apa Pardi disepelekan seperti itu ?  sebab masyarakat kita sudah terbiasa memiliki pola pikir “bahwa bila ingin jadi pejabat tinggi negara, kami harus kaya, bermodal banyak.  Sebab masyarakat gak mungkin mencontreng kita yang ‘bukan siapa-siapa’ kalau tidak ada imbalannya”.

Yang kedua, kita sudah terbiasa menilai seseorang dari penampilannya.  Penampilan Bang Pardi boleh dibilang jauh dari perlente apalagi modis mengikuti trend Mode terbaru di tanah air.  Tidak… beliau adalah seorang lelaki biasa, sederhana namun punya tekad yang ‘luar biasa’ hingga menjadi bahan tertawaan orang-orang disekitarnya.

Oleh sebab itu ketika dia masuk menjadi 3 besar nominator Anggota DPD RI tahun 2009-2014 banyak pihak yang shock, khususnya yang dulu doyan melecehkan dan menganggap dia remeh.  :)   Saya biasanya langsung ngeledek teman-teman tersebut “tuh… Pardi beneran memenuhi janjinya jadi anggota DPD DKI.  Saya rasa itu sebuah bukti konkret bahwa doa orang yang teraniaya akan dikabulkan oleh Tuhan…”   hahaha.

Moral of the story is :  bila anda memiliki keinginan yang sedemikian maha kuat, maka pastinya Tuhan akan menunjukkan jalan dan memudahkan kita untuk menggapai hasilnya.

Terlepas itu adalah keberuntungan Pardi karena memiliki “lucky Number 31″ saat pencontrengan lalu  ( 31 identik dengan Partai Demokrat ), ditambah banyak ketidak tahuan masyarakat bahwa anggota DPD RI itu adalah Caleg Independen non partai, sehingga masyarakat mencotreng nama Pardi di lembar Surat Suara, Wallahualam Bissawab…  Congratulation for Pardi.    :)

Ada beritanya di Koran Poskota hari ini, sebab rekan wartawan-pun banyak yang bertanya-tanya “siapakah sosok Pardi ini ??”.   Berikut beritanya…..

pardi

Tukang Sablon‘ Jadi Anggota DPD  
 
Rabu 15 April 2009, Jam: 9:16:00  
 
JAKARTA (Pos Kota) – Pardi buka nama yang popular. Tidak seperti AM Fatwa, Dani Anwar, Djan Faridz, atau Biem Benyamin. Namun Pardi tiba-tiba mengimbangi nama-nama tokoh nasional tersebut dalam perolehan suara sementara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari pemilihan DKI Jakarta.Bisa jadi nomor urut 31 membawa keberuntungan bagi Pardi. Sebab, berdasarkan perhitungan sementara di berbagai rekapitulasi di Jakarta, sosok rakyat kecil ini masuk dalam hitungan empat besar, sehingga kemungkinan besar bakal mulus melenggang ke Senayan.

Di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) lima wilayah kota di Jakarta, Pardi rata-rata mengungguli sejumlah tokoh popular yang sama-sama menjadi calon anggota DPD. Contohnya, di Kecamatan Tambora,Pardi memperoleh suara 5.862 di posisi empat besar, Sedangkan di TPS 31 Kelurahan Susukan, Ciracas, dia memperoleh 72 suara yang merupakan tertinggi di TPS itu.

Hampir di setiap kantor PPK, nama Pardi banyak dibicarakan lantaran jumlah suaranya berhasil mengalahkan sosok caleg lainnya yang sudah terkenal seperti Biem Benyamin, AM Fatwa, Rali Siregar, dan lainnya.

Siapa sih Pardi, kok banyak banget yang memilih dia? Pertanyaan ini banyak muncul di lokasi TPS pada saat penghitungan suara, termasuk penghitungan di PPK tingkat kecamatan. Dari obrolan itu, ada sejumlah orang yang mengaku mencontreng nomor 31, maksudnya ke Partai Demokrat, tapi lantaran tidak tahu, maka kertas suara Pemilu Caleg DPD pun banyak pemilih yang nyontreng nama Pardi.

RUMAH SEDERHANA
Semalam, saat Pos Kota bertandang di rumah sederhana milik orangtuanya di Gang Regalia, Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, namun Pardi sedang berada di Hotel Borobudur.

Pardi datang ke hotel tersebut untuk melihat secara langsung penghitungan suara lewat Tabulasi Suara KPU.

Melalui telepon genggamnya, Pardi mengaku memiliki percetakan kecil sebagai usahanya. Namun ia juga masih kuliah di Fakultas Hukum UI.Ia juga mengaku bekerja di salah satu kantor pengacara.

Lantaran memiliki percetakan, meskipun jarang terjun langsung mengerjakan percetakan tersebut dia tidak keberatan disebut sebagai tukang salon. “Engga apa-apa saya disebut tukang sablon!”canda Pardi.

Sehari-hari saya bekerja di bidang percetakan kecil-kecilan, di rumah orang tua, misalnya membuat kartu nama, sablon, spanduk, dan lainnya. Namun menurut orangtunya, Pardi memiliki percetakan khusus mencetak kardus donat . Donat itu biasanya dijual di dalam bus.

Saat ditanya adanya keberuntungan dari nomor urut 31, Pardi tidak sependapat. “Silakan saja orang menghubungkan saya dengan nama satu parpol, yang jelas perolehan suara seperti ini rangkaian hasil kerja keras yang saya rintis sejak tahun 2000,” kilah Pardi.

Pardi yang juga aktif sebaga ketua salah satu parpol tingkat cabang Ciracas ini, mengaku sering turun ke lapangan untuk membantu sesama rakyat kecil.

Alumni SMA API, Jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat mengatakan seandainya dirinya benar-benar jadi terpilih sebagai anggota DPD, ia berjanji memperjuangkan nasib rakyat kecil. “Prioritas saya adalah mengkaji ulang distribusi kartu keluarga miskin (gakin). Banyak orang kaya yang punya kartu gakin, sedangkan orang miskin tidak punya. Ini harus diluruskan,” tegasnya.

Pardi juga akan memperjuangkan Undang-Undang Keperawatan untuk meningkatkan layanan masyarakat di bidang kesehatan,” pungkas pria yang menjadi anggota facebook dengan nama Pardi Bang Acil.

 
(joko/wandi/guruh/st/B)

2 Comments

Filed under Only in Indonesia, Politik